MCerita Maba
Cerita Horor/Drama Kehidupan Asrama & Anak Kos

Anak Kos di Ibu Kota Halmahera Timur: Drama Listrik Mati dan Sinyal Hilang

Cerita anak kos di Maba, ibu kota Halmahera Timur. Drama listrik mati dan sinyal hilang jadi rutinitas malam yang harus dilewati.

Anak Kos di Ibu Kota Halmahera Timur: Drama Listrik Mati dan Sinyal Hilang

Inti Sari

  • Maba adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.
  • Penduduk Kecamatan Maba 12.373 jiwa (2020), luas 385,53 km persegi.
  • Padat penduduk 32,09 jiwa per km persegi.
  • Anak kos di Maba menghadapi listrik mati dan sinyal seluler hilang bergantian.
  • Penerangan darurat dan kartu perdana beberapa operator jadi barang wajib.

Malam Pertama di Kamar Sewa

Jam sebelas malam. Lampu kamar kos di Jalan Trans Halmahera, kawasan ibu kota Kabupaten Halmahera Timur, mati sekejap. Bukan mati total. Cuma kedip. Tapi cukup membuat Lina, mahasiswa semester tiga asal Tobelo, langsung bangun dan meraba meja. Buku catatan, powerbank, lilin kecil. Tiga benda itu diletakkan sejajar sebelum tidur, ritual wajib anak kos di Maba.

Maba bukan kota besar. Penduduk kecamatan ini 12.373 jiwa (2020), tersebar di luas 385,53 km persegi. Padatnya 32,09 jiwa per km persegi. Angka itu menjelaskan banyak hal. Jarak antar rumah renggang, kabel listrik sepanjang jalan, dan pemadaman jadi hal biasa yang tidak perlu diumumkan.

Lina menyewa kamar Rp400 ribu per bulan, sudah termasuk air. Kamar 3x3 meter, satu jendela, satu lampu, kipas angin kecil. Cukup. Yang tidak cukup adalah listrik.

Listrik Mati, Sinyal Hilang, Bergantian

Pola pemadaman di Maba tidak tetap. Kadang pagi, kadang tengah malam. Kadang sebentar, kadang sampai subuh. Anak kos belajar menyesuaikan diri. Powerbank diisi penuh saat listrik hidup. Lampu emergency dibeli di toko kelontong dekat pasar. Lilin disimpan di laci, bukan karena romantis, tapi karena murah.

Saat listrik hidup, masalah lain muncul. Sinyal seluler naik turun. Di beberapa titik kos, hanya satu operator yang kuat. Itu pun kalau cuaca bersahabat. Malam hujan, sinyal hilang. WhatsApp tidak terkirim. Panggilan putus. Tugas kuliah yang harus diunggah malam itu tertunda sampai pagi.

Beberapa anak kos menyiasati dengan membeli dua kartu dari operator berbeda. Satu untuk data, satu untuk telepon. Biaya tambahan, tapi tidak ada pilihan. Ada juga yang naik ke titik tinggi dekat kantor kecamatan hanya untuk mengirim file. Duduk di pinggir jalan, malam-malam, menunggu sinyal. Pemandangan biasa di Maba.

Hidup yang Tetap Jalan

Meski begitu, anak kos di Maba tidak berhenti. Pagi mereka ke kampus atau kantor. Siang makan di warung dekat pasar, sepiring nasi ikan Rp15 ribu. Sore belanja sayur di pasar tradisional yang buka terbatas. Malam kembali ke kamar, siap dengan lilin dan powerbank.

Maba adalah ibu kota kabupaten, jadi ada kantor pemerintahan, rumah sakit, sekolah, dan pertokoan. Tapi sebagai kota kecil di Halmahera Timur, keterbatasan infrastruktur masih terasa. Listrik dan sinyal bukan barang mewah, tapi belum sepenuhnya bisa diandalkan.

Lina bilang, dia tidak kapok. Kos di Maba murah, dekat kampus, dan suasana kekeluargaan kuat. Tetangga kos saling pinjam charger, saling kabari kalau listrik nyala. Drama listrik mati dan sinyal hilang jadi bagian dari cerita yang nanti akan dia kenang. Bukan sebagai horor, tapi sebagai babak yang membuatnya tahu cara bertahan.

Cuplikan Video

Pertanyaan Umum

Di mana Maba berada?

Maba adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, Indonesia.

Berapa jumlah penduduk Kecamatan Maba?

Penduduk Kecamatan Maba berjumlah 12.373 jiwa berdasarkan data 2020.

Berapa luas wilayah Kecamatan Maba?

Luas wilayah Kecamatan Maba 385,53 km persegi dengan kepadatan 32,09 jiwa per km persegi.

Kenapa anak kos di Maba menyiapkan lilin dan powerbank?

Karena pemadaman listrik dan hilangnya sinyal seluler cukup sering terjadi, sehingga penerangan darurat dan daya cadangan jadi kebutuhan sehari-hari.